Kumpulan ajang berdiskusi bagi siapa saja yang berminat mendalami psikologi. Mailing list ini dibuka sebagai upaya untuk mentransformasi pemahaman psikologi dari sifatnya selama ini yang tekstual menuju ke sifat yang kontekstual. Anda tidak harus berasal dari kalangan disiplin ilmu psikologi untuk bergabung sebagai member dalam mailing list ini. Mailing List ini dikelola oleh KOMUNITAS VIRTUAL PSIKOLOGI
--- In. "intel psitrans" <> (yahoo com) wrote: Maya Notodisurjo : Psikolog Spesialis Praktik Hukum Negative Reinforcement (Baca email terlampir: Data Swastinika = Maya Notodisurjo) Pengantar Negative Reinforcement (stimulus negatif) secara sah / legal / resmi / boleh dilakukan siapa saja bertitel Psikolog terhadap siapapun orang non-psikologi yang ingin dijadikan target korban. Sebagai psikolog maka memiliki hak untuk mengatur nasib psikologis orang lain. bilamana tidak menurut hukum psikologi maka siapapun dapat diberi sangsi tegas di dunia maya dan dunia nyata. Silahkan baca dialog-dialog dengan Psikolog Maya Notodisurjo di bawah ini tentang sangsi yang boleh secara tegas diberikan kepada pihak-pihak yang dianggap bersalah dalam hukum Psikologi di Indonesia. Sangsi-sangsi ala Psikologi tsb diantaranya berupa: * Teror kepada anggota keluarga dengan sita jaminan. * Cacimaki dengan bahasa kotor ala Psikologi kepada subject dan keluarga subject. * Pemalsuan dan penyebarluasan data kepribadian korban. * Pemalsuan bukti korban dan pemalsuan kuesioner. * Usaha pemerasan penangkapan dan pemenjaraan melalui jalur hukum. Untuk mengamati penerapan hukum ala Psikologi yang berlaku di Indonesia dengan contoh praktikalnya dapat diamati prilaku para psikolog kondang kita seperti misalnya Audifax. Ratih Ibrahim (sering muncul di televisi dan majalah). Sinaga Harez Posma dan di Maya Notodisurjo di: . Subject: Psikologi ala Pak Jusuf Sutanto (was Re: Yuk kita rame2) From: "monde78100" <monde78100@
> D/D/T:Wed Oct 24. 2007 2:48 pm e-link: "swastinika" <swastinika@
> wrote: Swastinika menulis : Kenapa Negative Reinforcement ini muncul? Sejauh yang saya amati karena pendekatan dengan mazhab psikologi yang lebih positif sudah dilakukan,tapi tidak berhasil. Monde : Mbak Swas dari mana muncul penilaian tidak berhasil? Bukankah justru kita seharusnya terus berusaha untuk menggunakan mazhab psikologi yang positif dibandingkan menyerah dengan contradict Reinforcement? Sebaiknya tidak ada alasan untuk membenarkan munculnya Negative Reinforcement. Mungkin saja contradict Reinforcemet memiliki daya supaya setiap pelakunya akhirnya dapat mengambil hikmahnya. Tapi bukan sebagai saran atau toleransi untuk memicu/membenarkan Negative Reinforcement tersebut. Justru kita harus mengambil sikap tidak mendukungnya. Swastinika menulis : Subyek tetap tidak menyadari bahwa dirinya bermasalah dan. significant others-nya juga tetap tidak mendukung subyek untuk menyadari masalahnya. Monde : Ini adalah pengamatan sepihak mbak Swas. Bermasalah atau tidak bermasalahnya seseorang tergantung dari sudut kepentingan para pengamatnya. Kalau mau melihatnya dengan sungguh-sungguh inilah yang terjadi pada fenomena kompatiologi. Vcl dianggap bermasalah atau tidak tergantung dari kepentingan terhadap kompatiologi ataupun pertemanannya dengan Vcl. Jadi itu sangat subyektif sifatnya. Jadi tetap tidak bisa dipukul-rata Vcl sudah pasti bermasalah untuk membenarkan munculnya Negative Reinforcement karena teman-temannya sudah tidak sanggup. Mbak Swas jangan terburu-buru memberikan cap penilaian kalau kenal dengan Vcl dan teman-temannya saja cuma dari milis. Swastinika menulis : Padahal dalam psikologi semua "correct" itu asalnya dari diri sendiri dan/atau dukungan lingkungan. Integrasi antara keduanya. Kalau subyek tidak menyadari dirinya bermasalah apalagi lingkungan mendukung konsep diri seperti itu setahu saya pendekatan psikologi yang paling positif pun tidak akan membawa perubahan :) Monde : Sekali lagi apa yang dikatakan oleh mbak Swas sendiri justru menunjukkan kerelatifan suatu perilaku seseorang. Bukankah bermasalah atau tidaknya seseorang sangat tergantung dari penilaian lingkungannya? Nah kalau lingkungannya sudah mendukung apa masalahnya kalau begitu? Vcl bermasalah bagi mbak Swas itu sih urusan kepentingan mbak Swas. Sekali-lagi tidak bisa dipukul-rata kalau mbak Swas sudah memberikan penilaian Vcl bermasalah maka dianggap bagi seluruh lingkungan lainnya pasti menilai juga Vcl bermasalah sekaligus menganggap lingkungan lain adalah buta jika tidak melihatnya. Vcl memiliki kekurangan iya. Kita semua pun memiliki kekurangan. Tapi apakah kekurangan (yang lagi-lagi relatif) itu bermasalah bagi lingkungannya itu soal lain. Swastinika menulis: Kembali ke konsep Mamamia: mau pakai pendekatan apa pun kalau Ajeng. Fiersha dll tidak menyadari dirinya perlu menjadi lebih baik tidak akan pernah berhasil mereka berubah :) Monde : Setuju! Mbak Swas mau beli Mondenya? Pliiissss Email sebelumnya: Subject: Psikologi ala Pak Jusuf Sutanto (was Re: Yuk kita rame2) From: Swastinika / Maya Notodisurjo D/D/T: Wed Oct 24. 2007 10:58 am e-link: "swastinika" <swastinika@
> wrote: Pak Jusuf yth. Sejak kemarin ingin mengomentari tulisan Bapak namun baru sempat memformulasikannya sekarang :) Moga2 tidak menyinggung Bapak :) Pembahasan Bapak mengenai Mamamia menarik tapi. menurut hemat saya. Bapak justru melupakan satu faktor penting dalam perubahan yang terjadi dalam acara tersebut :) Yang mengubah diri si anak jalanan. si tuna netra si ibu rumah tangga ADALAH mereka sendiri. Niat mereka sendiri usaha mereka sendiri. Psikologi bisa membantu mengenali kebutuhan mereka memotivasi mereka untuk berubah tapi. yang bisa menentukan berubah atau tidak adalah diri mereka sendiri. Psikologi das Sollen bertujuan untuk membuat si penguasa ilmunya mampu mengenali dan memediasi pencapaian kebutuhan orang. Psikologi das Sein menurut saya sudah cukup melakukan hal itu walaupun tentu masih harus terus berkembang. Salah satu perkembangan yang dibutuhkan agar Psikologi das Sein makin sesuai dengan khitahnya (Psikologi das Sollen) adalah: penerimaan orang2 terhadap psikologi sebagai psikologi (baik mainstream maupun perkembangannya yang sesuai). Apa yang terjadi sekarang? Psikologi kerap kali dirancukan dengan "perkembangan" yang tidak sesuai. Apa yang sebenarnya masuk ke tataran astrologi kebatinan dan entah apa lagi semuanya "dirancukan" sebagai bagian dari psikologi - dengan alasan bahwa semua adalah mengenai manusia sebagai individu. Dengan kerancuan2 seperti ini makin sulit orang percaya pada psikologi apalagi melibatkannya dalam porsi yang tepat :). Siapa yang mau melibatkan ilmu psikologi dalam pembuatan program jika baik/buruknya schedule dinilai dari rating dan jumlah keuntungan material (yang tidak ada sangkut pautnya dengan psikologi)? Kesalahan siapakah hal ini? Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian psikolog memang tidak perduli pada hal2 ini kurang memperjuangkan hal ini. Tapi. terus terang menurut saya hal ini juga diperparah oleh "awam" yang memposisikan dirinya sebagai ahli psikologi. Bayangkan sudah psikologinya sendiri belum jelas di mata awam tiba2 ada awam yang memposisikan diri sebagai ahli. bagaimana awam yang lain bisa membedakan mana yang psikologi beneran mana yang psikologi gadungan ;)? Akan halnya "debat (kusir?)" atau yang Bapak sebut "pepesan kosong" itu menurut hemat saya justru sedikit banyak menunjukkan ciri2 psikologi. Mungkin bukan mazhab Psikologi Positif atau Psikologi Humanistik atau mazhab2 lain yang percaya pada kemampuan manusia tapi. saya melihatnya mencirikan salah satu mazhab klasik psikologi: Behavioristik. Beberapa kasus mengingatkan saya pada percobaan tentang Negative Reinforcement: dimana ketidakmunculan perilaku positif akan mengakibatkan munculnya penguatan negatif. Memang tidak sempurna karena tidak ada fixed ratio interval ratio dll tapi moga2 bisa membantu shaping behavior. Kenapa Negative Reinforcement ini muncul? Sejauh yang saya amati karena pendekatan dengan mazhab psikologi yang lebih positif sudah dilakukan tapi tidak berhasil. Subyek tetap tidak menyadari bahwa dirinya bermasalah dan. significant others-nya juga tetap tidak mendukung subyek untuk menyadari masalahnya. Padahal dalam psikologi semua "correct" itu asalnya dari diri sendiri dan/atau dukungan lingkungan. Integrasi antara keduanya. Kalau subyek tidak menyadari dirinya bermasalah apalagi lingkungan mendukung konsep diri seperti itu setahu saya pendekatan psikologi yang paling positif pun tidak akan membawa perubahan :) Kembali ke konsep Mamamia: mau pakai pendekatan apa pun kalau Ajeng. Fiersha dll tidak menyadari dirinya perlu menjadi lebih baik tidak akan pernah berhasil mereka berubah :) Jadi. kalau sekarang Bapak bertanya: "Boro-boro ini yang dibahas malahan urusan dekon mendekon lalu ngapain dilayani ? Tapi kalau yang muncul menjadi seperti itu lalu masyarakat bertanya dan mempertanyakan apakah anaknya akan didorong untuk belajar psikologi" maka jawaban saya adalah demikian: Jika masyarakat masih melihat psikologi seperti Bapak melihat psikologi maka besar kemungkinan anaknya tidak akan didorong untuk belajar psikologi. Tapi. jika masyarakat melihat psikologi sebagai psikologi maka mungkin justru mereka akan mendorong anaknya belajar psikologi. Mohon maaf. Pak Jusuf saya menghargai Anda sebagai orang yang lebih tua dan jelas sangat pandai serta arif. Saya juga pernah mendengar Bapak diminta mengajar di beberapa fakultas psikologi (kalau saya tidak salah). Namun mengenai psikologi ini saya merasa Anda mencampuradukkan psikologi dengan entah apa. Di satu sisi hal ini mungkin memperkaya psikologi. Saya yakin pendapat2 Bapak memperkaya mazhab psikologi positif. Namun. di sisi lain seperti dalam kasus yang lebih dekat dengan mazhab klasik membuat Bapak alpa melihat apa yang sebenarnya sangat psikologis :) Semoga tidak menyingung Bapak ini hanya sekedar pendapat seorang awam yang tak berilmu :) Salam. LAMPIRAN fakta "Swastinika" = "Maya Notodisurjo" Subject: 2 - Data: Swastinika = Maya Notodisurjo From: "Audifax"<audifacx@
> D/D/T: Tue Nov 28. 2006 8:58 am <audifacx@> wrote: 2 Data Swastinika = Maya Notodisurjo Pembaca yang kebetulan menjadi member milis Psikologi Transformatif mungkin menyaksikan perdebatan antara saya dan seseorang dengan ID: Swastinika. Salah satu poin yang diperdebatkan di situ adalah mengenai DATA vs INTERPRETASI. Saya selalu menunjukkan bahwa sejumlah klaim yang dikemukakan Swastinika adalah INTERPRETASI-
nya semata. sebaliknya Swastinika juga berkali-kali mendebat saya dengan mengatakan bahwa apa yang saya sebut sebagai DATA tak lebih dari INTERPRETASI saya. Walau ini hanyalah perdebatan antara Audifax dan Swastinika tetapi saya tertarik untuk mengangkat sebagai satu bab pembahasan tersendiri karena perdebatan semacam itu bukan barang baru dalam ilmu pengetahuan setidaknya itu saya lihat dengan jelas di psikologi sebuah ranah ilmu yang selain bermain dengan DATA juga bermain dengan INTERPRETASI. Maka dari itu menjadi menarik bagi saya untuk mengangkat dan menelaah lebih dalam polemik DATA vs INTERPRETASI sehingga kita bisa belajar membedakan mana yang DATA dan mana yang INTERPRETASI. DATA secara umum bisa didefinisikan suatu hal yang kita ambil pada moment tertentu. Suatu yang terjadi di suatu tempat di suatu waktu sehingga untuk verifikasinya bisa dirunut kembali sesuatu tempat waktu atau sumbernya. Dengan demikian seberapa sesuatu memiliki kemerujukan terhadap realitas itulah yang bisa disebut `Data'. Hal ini jelas tidak tampak pada klaim Swastinika berikut (tambahan bold dari saya untuk memperjelas siapa/apa yang dirujuk oleh kata ganti yang digunakan dalam kalimat tersebut]: Well let's say I experience your (Audifax) story with those mailing lists (Milis Psikologi Transformatif) ;) Anda dkk cukup terkenal. Audi-boy dan bukan karena skripsi Anda (Audifax) yg dibukukan itu ;) Pertama sudah jelas bahwa SKRIPSI SAYA [AUDIFAX] TIDAK PERNAH DIBUKUKAN. Jadi pernyataan "skripsi saya [Audifax] yang dibukukan" itu tak lebih dari interpretasi seenak udel dari Swastinika. Jika yang dimaksud adalah buku "Mite annoy work" maka makin jelas bahwa apa yang disebut skripsi disitu adalah INTERPRETASI yang diletakkan secara sembarangan. Siapapun boleh melakukan cross-check DATA yang saya berikan yaitu: SKRIPSI SAYA [AUDIFAX] TIDAK PERNAH DIBUKUKAN dengan merujuk: 1. Fakultas Psikologi Universitas Surabaya atau perpustakaan Universitas Surabaya. Atau siapapun yang kebetulan tahu skripsinya Audifax. Dari sini anda akan dapat DATA bahwa skripsinya Audifax bukan "Mite Harry Potter" sebagaimana diterbitkan oleh Jalasutra melainkan "Konsep Perilaku Profesional [Profesionalisme] pada Tenaga Kreatif di Biro Iklan Studi Eksplanatif berdasar Teori Grounded pada Biro Iklan Surabaya" 2. Di-cross-check ke pihak penerbit Jalasutra apakah memang Audifax pernah mempublikasikan atau mengabarkan bahwa naskah yang ditawarkan dan kemudian terbit adalah skripsinya. Anda bisa melakukan telecommunicate pada: redaksi_bdg@ 3. go across check ke toko buku jika ditemukan bahwa "Konsep Perilaku Profesional [Profesionalisme] pada Tenaga Kreatif di Biro Iklan Studi Eksplanatif berdasar Teori Grounded pada Biro Iklan Surabaya" karya Audifax ternyata sudah terbit dalam bentuk buku maka klaim saya bahwa SKRIPSI SAYA [AUDIFAX] TIDAK PERNAH DIBUKUKAN otomatis gugur. Di sinilah baru kita bisa bicara data setelah melihat dan kemerujukannya pada tempat waktu peristiwa tertentu yang bisa diakses untuk verifikasinya. Dan siapapun yang mengakses akan mendapat hasil yang sama. Kedua perkataan Swastinika berikut: "let's say I know your (Audifax) story with those mailing lists (Milis Psikologi Transformatif) ;)" juga adalah interpretasi karena saya ketika mendirikan milis Psikologi Transformatif sama sekali tidak pernah mengenal atau ada orang di sekeliling saya bernama Swastinika [atau Maya Notodisurjo]
Jadi perkataan "I experience your story with those mailing enumerate" itu sama sekali bukan data melainkan kesoktahuan yang diwujudkan dalam interpretasi. Mungkin Swastinika ini anggota PERKEMI. "Persatuan Kemeruh Indonesia" [Kemeruh= basa Jawa untuk Sok Tahu]. Jadi kesoktahuan ini jelas sama sekali bukan data. lha wong tidak pernah ketemu dan Cuma modal nggosip kok berani-beraninya bilang "I know"? Apa bukan takabur dan seenak udel namanya? Apalagi dikaitkan dengan ide awal membentuk mailing list ini bukankah ini Cuma bentuk perilaku TAK TAHU MALU DARI SEORANG MAYA NOTODISURJO DI HADAPAN REALITAS YANG SAMA SEKALI TAK DIKETAHUINYA? Pada titik ini saya akan mengutip kembali apa yang ditulis Maya ketika saya mengatakan bahwa dia "Sok Tahu": Ah. sebuah tuduhan baru: sok tahu ;). Mungkin sebentar lagi TV bisa bikin acara baru: Gemar Menuduh asuhan Audifax. Seperti acara Gemar Menggambar asuhan Pak Tino Sidin dulu ;) Dengan paparan saya di atas jelas bukan sebuah tuduhan tetapi sesuatu yang berdasarkan data. Apalagi yang lebih tepat untuk menggambarkan orang yang merasa tahu apa yang sebenarnya tidak diketahuinya selain "Sok Tahu"? Justru yang paling pas diusulkan pada stasiun televisi di sini adalah acara "Gemar Sok Tahu" asuhan Maya Notodisurjo lulusan Psikologi Universitas Indonesia dan Peneliti di cause investigate. Lalu mari di sini kita praktekkan langsung apa itu data dan bagaimana mencari data yang benar. Bukan itu saja pada latihan kali ini saya akan tunjukkan sebuah data yang bisa diverifikasi dan dirujuk siapa saja yang kebetulan tengah membaca tulisan ini secara online. Ketika saya menanyakan: "Anda sendiri masuk kategori yang mana? "Yang pernah belajar psikologi" atau "Yang belum pernah belajar psikologi?" Swastinika tidak mau menjawab pertanyaan saya tersebut melainkan menjawab demikian: Menurut Anda ;)? It's for you to judge ;) Mari kita ikuti langkah-langkah berikut untuk melihat siapa yang terbiasa melakukan judge. Langkah 1 Swastinika pernah menulis dengan menyebut-nyebut PSIINDONESIA terutama ketika ia membandingkan bahwa di sana milisnya bersifat tertutup. Maka saya meletakkan `hipotesa' bahwa swastinika adalah member milis PSIINDONESIA. Saya berharap memeroleh sesuatu yang bisa menghantar untuk memberi gambaran secara akurat [dalam bentuk data] mengenai Swastinika. Jika anda member PSIINDONESIA atau mempunyai akses ke milis tersebut melalui e-mail teman silahkan melakukan pencarian dengan kata kunci "Swastinika" pada fasilitas search di milis PSIINDONESIA di sana anda akan menemukan dua posting di link: dan inilah lengkapnya tampilan hasil pencarian: 3665 Re: TtgRajudariNONPSIKO
LOG Kemarin Pak Wisnu menulis sebagai berikut: Message: 7 Date: Tue. 7 Mar 2006 14:02:04 +0700 From: "Wisnubroto" <wisnu@ Subject: Re: TtgRajudariNONPSIKO
LOG Hari ini ( 7 februari 2006 ) di Kompas ada berita tentang Raju dengan judul "Yang hilang mengenai... Maya Notodisurjo mayanoto@ swastinika Mar 7. 2006 8:01 pm 3017 RE: s psi jadi tukang tes Mengenai S. Psi jadi tukang tes ini saya punya "cerita" yg agak mengkhawatirkan. Beberapa bulan lalu sepupu saya ibu dari seorang anak berusia 4 thn menelepon saya dengan panik. Katanya hasil pemeriksaan tes psikologis anaknya menunjukkan gejala2... Maya Notodisurjo mayanoto@ swastinika Oct 11. 2005 12:08 am Baik pada tulisan yang mereply kasus Raju maupun S. Psi jadi tukang tes di bagian bawahnya tertulis DATA sebagai berikut: beat Regards. MAYA NOTODISURJO (Psi 91) "Maya Notodisurjo" <mayanoto@> swastinika Sampai di sini saya sudah punya `Data' bahwa Swastinika adalah termasuk golongan "Yang pernah belajar psikologi" dan itu bukan adjudicate karena ditulis oleh Swastinika atau Maya Notodisurjo sendiri yaitu "Psi 91". Tetapi apakah cukup `data' dari milis PSIINDONESIA saja? Tentu tidak. Dalam mencari data kita harus melihat bahwa ada kemungkinan data itu salah. Kemungkinannya di sini adalah Maya Notodisurjo yang memakai ID Swastinika di milis PSIINDONESIA berbeda dengan Swastinika yang tengah berdebat dengan Audifax di milis Psikologi Transformatif maka saya harus menguji data tersebut. Langkah ke 2 Saya cari di Google setelah terlebih dulu men-setting pencarian hanya dalam bahasa Indonesia. Pencarian dilakukan dengan menggunakan pertama: hanya kata kunci "Swastinika"
kedua: hanya kata kunci "Maya Notodisurjo" dan ketiga: menggabungkan kata kunci "Swastinika" dan "Maya Notodisurjo"
Ternyata di link: saya temukan: MAYA NOTODISURJO cause Research Century Tower 5th surprise. # 501 Jl. HR Rasuna Said Kav. X2 no. 4 Jakarta 12950 Pada communicate dari Maya Notodisurjo [link: ] saya temukan tulisan dari Maya Notodisurjo berjudul: "Siren is Gold" yang menceritakan perdebatan di milis Psikologi Transformatif. Sampai pada langkah ini barulah bisa dikatakan bahwa Data "Swastinika=
Maya Notodisurjo" telah ditriangulasi kebenarannya. Bahkan didapat data lain seperti: Maya Notodisurjo Graduated from University of Indonesia majoring on psychology in 1997. Her career in marketing research was started at DEKA Marketing investigate alter after her graduation. She left DEKA to fit NFO Consensus/ MBL in early 2001. She joins cause since early 2002. Specialized in Qualitative Research she has handled hundreds of projects using both cerebrate Group Discussions and In-Depth Interviews for various products; consumer goods advertising cigarettes banking/insurance products etc. She has a lot of experience with motivational studies especially among mothers and kids research [cerebrate: ] Di cerebrate: terdapat data Date of Birth:June 18. 1972 Age:34 First Name:Maya Last Name:Notodisurjo Title:Research Manager Company:cause Research Location:Jakarta. Indonesia investigate Role:Supplier Side Gender:Female Biography: I go away working in marketing research in July 1997 just a week after my graduation from Faculty of Interests: reading philosophy art di link: terdapat data: Age: 34 Gender: Female Astrological Sign: Gemini Zodiac Year: Rat Industry: Marketing Occupation: Researcher Location: Jakarta : Indonesia Dari hasil pencarian masih bisa ditemukan beberapa communicate dan posting pada milis salah satu data lain yang bisa saya dapat adalah Maya Notodisurjo memiliki putri bernama Swastinika Naima Moertadho yang lahir di Jakarta tahun 1999. Jadi di sini kita juga bisa tahu bahwa `Swastinika' merujuk pada nama putri dari Maya Notodisurjo. Sampai di sini pembaca sudah bisa membedakan mana yang DATA dan mana yang INTERPRETASI pada contoh yang saya tunjukkkan di atas. Jadi penilaian pada mana yang DATA dan INTERPRETASI saya serahkan saja pada pembaca. © Audifax 28 November2006 --- End forwarded message --- --- End forwarded message ---
Forex Groups - Tips on Trading
Related article:
http://transformatif.blogspot.com/2007/11/psikologitransformatif-maya-notodisurjo_06.html
comments | Add comment | Report as Spam
|