Ini adalah sebuah kisah yang berbeda kisah yang berbeda. Kisah yang berceritakan tentang kebenaran dan takdir yang tertulis untuk sesuatu yang bernama kasih sayang. Aku. Arthur La Fuella seorang anak yang dibesarkan dikota kecil bernama Eralin. Kisah ini sebenarnya tertulis disebuah buku kecil didalam silsilah keluarga kami namun karena takdir yang terukir dikeluargaku darahku pun harus menerima itu. Ini kisahku…
Petir menyambar-nyambar deru angin deras mengoyangkan pepohonan deras hujan bertiup kencang langit gelap menutupi bintang kemerahan terasa seperti kumpulan darah yang siap tertumpah dari grail suci. Aku berdiri diatas atap menara gedung jam besar Eralin dengan menekukkan sayap hitamku. Jubah hitamku basah mengepak saat ditiup angin. Wajahku kosong diantara sepinya malam yang dingin. Badanku lemas dan aku tak sanggup berpegangan lagi. Ku terkulai jatuh menghempas dasar dengan keras.
Ku buka mataku berlahan dan tersentak duduk. Kepalaku pusing dan kupegang. Perban berbalut dibalik rambut merahku saat kulihat diriku didepan cermin tepat didepan tempat tidurku.
Aku berdiri menuju kamar mandi. Ku bercermin memperhatikan diriku yang tidak aku sadari memiliki luka begitu saja. Ku tidak mengerti kenapa bisa terjadi? Seolah aku telah berjalan dikegelapan mencari sesuatu yang aku sendiri tidak tahu atau apakah aku hanya bermimpi saja? Tapi sudahlah! Aku rasa aku tidak perlu menanggapinya.
Setelah mandi aku menuruni tangga dari kamarku memperhatikan ibuku yang sedang menyiapkan sarapan untukku sebelum pergi ke sekolah.
Aku mengambil sehelai roti dan mengoleskan coklat dan sedikit susu kental dan satu lembar keju tipis. Ku gigit kemudian meneguk air ku bergegas keluar rumah untuk pergi ke sekolah.
Dipemberhentian bus ku melihat perempuan cantik yang sangat aku kenal namun aku tidak bisa berbicara dengannya. Ellea Asentila. Dia sangat manis dengan rambut pendek berwarna hitam dan kedua bola matanya berwarna coklat kulitnya yang putih dan indah menambah kecantikan dan keanggunannya.
Dia memang tidak berubah pikirku. Memang dia cantik namun aku mungkin saja merasakan kebahagian ini karena paras yang luar biasa indahnya megahnya dan anggunnya.
Sesaat aku memikirkan Ellea namun sesaat aku tersentak pula. Setelah cukup lama didalam kelas yang membosankan akhirnya aku bisa keluar kelas karena waktu istirahat. Ku berjalan dikoridor menuju perpustakaan.
“Sendiri saja. Ar?†sapa laki-laki bernama Alain. Dia adalah seorang teman yang bisa aku andalkan. Dia sosok yang penuh canda tawa penuh akan lawakan hingga mampu mengguncang isi perutku karena tertawa. Namun aku sendiri tidak mengerti apakah dia pernah sedih?
Diperpustakaan yang sepi itu aku berjalan disela-sela rak buku yang tinggi menjulang diantara orang-orang yang sibuk dengan bukunya masing-masing aku mencari sebuah jalan kecil dimana tidak ada satu orang pun disana hingga akhirnya ku melihat seorang gadis yang mampu membuat nafasku berhenti sejenak. Ku perhatikan gadis itu sedang berusaha meraih buku yang ada dirak bagian teratas dia tak mampu mengambilnya.
Ku berjalan mendekatinya dan meraih mengambilkan buku itu untuknya. Dia terdiam dan memandang saja. Ku berikan buku itu padanya sambil tersenyum.
Dia berlari dan aku ingin meraih namun aku tak sanggup untuk memanggil namanya. Entah apa yang ada didalam pikiranku dan hatiku. Tapi biarlah saja begitu. Aku rasa itu tidak perlu ditanyakan dan djiawab.
Ku ambil buku yang terhimpit didepanku dan sampulnya cukup menarik namun pengelihatanku berubah seperti menghilang. Ku pandang sekeliling ku melihat ku berada ditengah-tengah padang pasir dan angin bertiup kencang.
Pasir-pasir berderu meniup wajahku dan melindungi pengelihatanku dari butiran pasir. Disela-sela pengelihatanku kulihat seorang perempuan berdiri ditengah-tengah dengan gaun putih dan sekuntum bunga mawar digenggamannya. Pengelihatanku berubah lagi dimana aku melihat sosok manusia bersayap hitam nan megah mencekik gadis cantik yang sangat ku kenal.
Jantungku berdetak kencang pengelihatanku semakin jelas namun aku tak mampu mengendalikan diriku dan inginku untuk menolongnya segera. Ku berlari mencoba menghentikannya namun aku hanya menembus sosok bersayap itu. Ku lihat wajahnya ku tak bisa melihatnya dengan jelas. Laki-laki itu mencekik Ellea dengan keras hingga sulit bernafas.
Kakiku gemetar tak bisa bergerak tangan kananku ku angkat ingin menolongnya. Hatiku tersedak keras mulutku ingin teriak namun terbungkam. Ku paksa mulutku tapi terasa sakit untuk terbuka apalagi teriak.
Ellea semakin kesakitan nafasnya sudah tersengal dan tubuhnya terkejang-kejang. Mataku tak berkedip saat dia mengangkat tangannya ke langit sudah tak bisa bernafas.
“E…E…†ku gelengkan kepalaku dan memaksa bibir tuk terbuka hingga mataku tubuhku kakiku jantungku terhenti dan kemudian aku…
Tubuhku serasa berpindah dari dimensi lain dan tersungkur dengan tubuh berkeringat basah. Sekujur tubuh gemetaran dan kulitku terlihat berubah memerah seperti darah.
Forex Groups - Tips on Trading
Related article:
http://ageofstory.blog.com/2082068/
comments | Add comment | Report as Spam
|